Fake News and Fake People

Ha iniiiii…

linimasa

Jadi begini ya.

Semenjak jadi remaja tanggung, entah mengapa percaya 95% sama sesuatu atau seseorang tidak pernah jadi default (not even 100%). Apalagi orang baru yang sekonyong konyong hadir dan seolah memaksakan posisinya di suatu situasi atau dekat seseorang atau diri. Atau orang baru kenal yang mendadak suka memuji. Sering benar instingnya, tetapi kalau salah, tak segan saya ubah pendapat. Karena itu jika pernah membaca kalau seorang Gemini lebih percaya orang yang mengkritisinya dan curiga ketika orang memujinya itu (tidak penting saya Gemini atau bukan) memang dirasakan benar adanya.

shutterstock_212116750-e1479401971146Yang tadinya dirasakan sebagai kekurangan dalam karakter dalam era fake news begini kok rasanya bisa jadi keuntungan. Mau itu berita baik dari tokoh yang dikagumi, atau berita buruk dari yang tak disukai, enggan rasanya menyebar berita kalau belum konfirmasi latar belakang. Malah akhir akhir ini tidak hanya fake news, tapi muncul juga fake people.

Asalnya, suatu hari yang…

View original post 431 more words

Advertisements

‘Edgar Allan Poe’s Tales of Death and Dementia’ – illustrated by Gris Grimly

Coriander in Pho

Buat yang suka ngebaca karya klasik — terutama horor klasik — biasanya “kenal” dengan Edgar Allan Poe. Beliau ini adalah pengarang beberapa cerita horor klasik seperti ‘The Masque of Red Death’, ‘The Cask of Amontillado’, dan puisi ‘The Raven’.

Dibilang horor supranatural ya nggak juga. Bukan horor macem ketemu vampir, jaelangkung, atau pocong. Lebih ke… Apa ya, horor yang disebabkan oleh pikiran kita sendiri.

Banyak kritikus yang berspekulasi bahwa Poe sendiri mengalami gangguan mental seperti schizophrenia atau depresi, makanya karya-karyanya dia ya seperti itu; tema utamanya adalah kegilaan.

And it’s pretty horrific, really.


Saya menyukai karya-karya Edgar Allan Poe karena alasan itu: Horor yang kita alami sumbernya dari pikiran kita sendiri. The monster lies within us. Jadi ketika saya melihat novel grafis ini — eh, ini novel grafis bukan ya? Lebih ke novel dengan ilustrasi yang banyak sih. Err, buku bergambar? — saya langsung tertarik.

Dan dari buku…

View original post 285 more words

Ketika Ayal Bertanya Soal Ahok

abdul-hamid.com

Selepas mengaji bakda maghrib, Ayal terlihat gelisah. Setahuku kutu di rambutnya sudah bersih setelah dicatok, jadi ini pasti bukan persoalan rambut indahnya. Pasti ada yang mengganggu pikiran putri mungilku.

13445712_10154354775259015_5075215379914806482_n

Sebelum aku bertanya, Ayal sudah bertanya duluan. “Bah, kenapa sih temen-temenku di sekolah bilang kalau Ahok bilang Al Qur’an bohong?”

Wah pertanyaan berat. Anak2 SD sekarang memang cihuy.

***

 Abah: “Mbak Ayal dalam pidato di Kepulauan Seribu, Ahok mengatakan ….dibohongi pake surat Al Maidah 51….. “

“Trus” kata Ayal?

“Ada orang namanya Buni Yani, bikin transkrip atau catatan menghilangkan kata “pakai” dan dijadikan status di facebook. Jadilah Ahok dituliskan mengatakan dibohongin Al Maidah 51. Nah Buni Yani sudah mengaku kalau dia mengilangkan kata “pakai”. Padahal statusnya Buni Yani sudah menyebar kemana-mana. Membuat banyak orang merasa Ahok menistakan agama Islam. Menimbulkan kemarahan di mana-mana. (http://metro.news.viva.co.id/news/read/833401-buni-yani-bicara-soal-transkrip-video-ahok-kutip-al-maidah)

Ayal menyambar “Lha memang bedanya dibohongi Al Maidah 51 dengan dibohongi pake Al Maidah 51…

View original post 445 more words

Me on Bob Dylan: It’s Alright, Ma (I’m Only Mumblin’)

linimasa

Penonton: “JUDAS!!”

Bob Dylan: “I don’t believe you. You’re a liar! “Play it fucking loud!”

dylan2

Lalu lagu “Like A Rolling Stone” pun mengalir seperti batu yang yang bergulir dan entah kapan akan berhenti. Kata “Judas” adalah teriakan dari penonton di Manchester, tahun 1966. Caci maki seperti: “Any bloody pop group can do this rubbish!”, “He’s a fake neurotic.”, “Dylan is prostituting his music.”, “Go home, you traitor!” banyak keluar dari penonton di rangkaian turnya di Inggris yang terkenal kritis. Tapi Bob Dylan merespon seadanya. Santai dan meneruskan bernyanyi. Teriakan itu bukan tanpa sebab. Tahun 1965-66 adalah periode penting di karir Bob Dylan sebagai penyanyi dan di dunia musik pop. Dia tidak ingin hanya menjadi penyanyi yang bermodalkan gitar akustik dan harmonika saja. Tapi memutuskan untuk memakai band dan memakai untuk memakai gitar listrik. Para pengikut setianya merasa dikhianati. Mereka kecewa. Mereka menginginkan Dylan…

View original post 2,082 more words