Pelajaran Sederhana (1)

Ashadisiregar's Weblog

WAWANCARA JURNALISTIK

Oleh Ashadi Siregar

Pada suatu sore di akhir 80-an. Sedang asyik-asyiknya menikmati kesendirian dengan sebuah buku, saya terusik bel rumah. Seorang muda bertamu. Saya tidak mengenalnya, karenanya setelah menjawab salam awal persuaan, saya menunggu dia memperkenalkan diri.

”Saya dari ’….’,” dia menyebut nama sebuah media majalah mingguan terbitan Jakarta, ”saya mendapat tugas untuk mewawancarai bapak.”

Bukan namanya yang dia sebut. Jadi dia ingin anonim saat berwawancara.

Dia mengeluarkan selembar kertas faks dan tape recorder. Kelihatannya dia yakin, dengan menyebut nama medianya, setiap orang akan sangat ingin diwawancarai. Hm, pasti dia bukan mahasiswa saya, dan juga tidak pernah mengikuti latihan jurnalisme yang di dalamnya saya terlibat. Sebab tidak lazim mahasiswa atau calon wartawan yang mengenal saya, memperlakukan saya sebagai bapak-bapak, apalagi dengan gaya congkak saat menyebut nama medianya. Boleh jadi oleh seniornya ditanamkan kebanggaan akan reputasi medianya, tapi dalam tangkapan saya menimbulkan kesan arogan. Bisakah dibedakannya pride (bangga) dengan…

View original post 1,366 more words

Advertisements

Published by

temukonco

story-teller | food-lover | good-listener | secret-keeper | traveller

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s