A Sincere Note for All My Good Friends

Memilih demi anak cucu kelak…

ikancita:

Dear friends,

In 3 more days, it will come the time we’ve been waiting for: the time when our social media timeline will once again be free from hatred of those who have been so fierce-fully campaigning their choice of the future president. In 3 more days my social media life should come back normal again, filled with baby pictures and motivational quotes.

However, as I lay in my bed waiting for my son to sleep earlier today, it struck me hard. Will our lives ever be back to normal after the 9th of July?

Dear friends, when we go to cast our vote next Wednesday, did it ever occur to your mind that with every hole we punch on that simple piece of paper, we are actually making a history? A history that forever will be written in our nation’s history that one day in the future we will…

View original post 402 more words

Sebuah Refleksi di pagi H-1 Pilpres 2014

Tentang memperbarui niat memilih pasangan capres sebelum hari pencoblosan

WongTakon

Pagi ini saya mendapat banyak pengetahuan dan informasi baru yang membuat saya merenung. Apalagi kalo bukan tentang Pilpres Indonesia 2014.

Sejak masa kampanye pilpres dimulai, saya mengamati beberapa rekan yang dengan aktif menyampaikan informasi (baik atau buruk) mengenai kedua pasangan capres. Saya sempat masuk dalam euforia tersebut dengan memposting dan me RT beberapa twit yang mendukung pasangan pilihan saya. Saya ikut berkomentar di dinding fesbuk teman-teman saya. Saya aktif mencari informasi terbaru mengenai pasangan capres pilihan saya dan kadan-kadang menertawakan kebodohan (menurut saya) pendukung capres sebelah. Saya merasa gagah, gaul dan berguna. Saya mengasihani pilihan teman-teman pendukung capres sebelah karena saya merasa pilihan saya yang terbaik dan alasan saya memilih adalah yang paling mulia dan karenanya, saya  ingin menolong mereka. Padahal kata sudjiwo tedjo, “jika kamu ingin menolong orang karena kamu kasihan kepada mereka, sebenarnya kamu sudah dihinggapi rasa sombong”.. #jlebb

View original post 103 more words

Bapak Tukang Becak – Alasan mengapa saya memilih Jokowi

Bagaimana dengan kalian? Sudah menentukan pilihan?

Wednes Aria Yuda

Saya tidak mengenal Jokowi secara pribadi. Saya belum pernah bertemu dengan Jokowi sampai saat ini. Dan tidak seperti testimonial lain, saya belum pernah melihat Jokowi secara langsung. Tulisan ini akan bercerita tentang keyakinan saya pribadi. Karena berdasar pengalaman pribadi saya. Mungkin akan berbeda denganmu teman-teman yang punya pengalaman yang berbeda. 

Keyakinan saya untuk memilih Jokowi justru berasal dari seorang tukang becak. Karena cerita seorang tukang becak inilah, saya merasa bahwa Jokowi pantas saya pilih di pemilu capres 9 Juli besok.

Ceritanya bermula di suatu pagi ketika saya harus mengantarkan istri saya ke Solo sekitar setahun yang lalu. Saat itu Pak Jokowi sudah menjadi gubernur Jakarta. Tidak lagi berada di Solo. Dan hingar-bingar pencapresan belum sampai pada titik seperti sekarang. Bahkan belum ada kabar bahwa Pak Jokowi akan maju sebagai capres pada pemilu kali ini.

Jadi ceritanya, kami harus ke sebuah supermarket di bilangan Solo Grand Mall untuk suatu keperluan. Dari…

View original post 534 more words

Pilpres di TPS KBRI Seoul

Cerita Pilpres di Korea Selatan

Jay Afrisando

Pilpres (pemilihan presiden) di Korea diselenggarakan lebih awal, yaitu pada tanggal 6 Juli 2014. Ada enam TPS yang tersebar di enam daerah, yaitu Seoul, Ansan, Incheon, Daegu, Gimhae, dan Jeju.

Sekitar seminggu yang lalu saya mendaftarkan diri sebagai pemilih secara online di https://pemilukorea.com/ dengan berbekal dokumen seperti salinan Alien Registration Card. Karena saya tinggal di Seoul, maka saya memilih di TPS Seoul yang bertempat di KBRI (Youidebangro, dekat dengan stasiun subway Saetgang).

Pilpres di KBRI berjalan dengan lancar dan tidak mengalami hambatan yang berarti. Berikut adalah beberapa jepretan saya tentang suasana pemilu kemarin di KBRI.

               

View original post

Mengapa Orang Indonesia Menggambar Gunung Kembar? | Ayo #TolakUN

Iya, baru sadar kalo selama ini gambar bebek selalu menghadap kiri gara-gara dulu diajarin pake angka 2 sebagai awal menggambarnya..

Tolak Ujian Nasional

GUNUNG KEMBAR
Oleh Sarlito Wirawan Sarwono

Sejak beberapa tahun terakhir, Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia, Jakarta (biasa dikenal dengan singkatan UPI YAI), tempat saya bekerja selepas pensiun sebagai PNS, mengundang seorang psikolog bangsa Perancis, Dr. Roseline Davido, untuk mengembangkan, meneliti dan memublikasikan sebuah tes psikologi baru yang diciptakan oleh Dr. Davido sendiri dan diberi nama tes CHaD (Children Hands that Disturb).

Intinya, tes ini adalah tes menggambar. Peserta diminta menggambar gambar yang paling sering digambarnya semasa dia kecil, dan sesudah itu menggambar lagi dua gambar tangan. Yang satu tangan yang normal dan yang satu lagi tangan yang mengganggu. Dari hasil tes itu kemudian dianalisis kepribadian orang yang bersangkutan.
Saya tidak akan membahas tes ini karena terlalu teknis. Tetapi ketika Dr Davido untuk pertama kali (pada tahun 2010) mencobakan tes itu di kalangan dosen-dosen psikologi di UPI YAI, dan meminta peserta menggambar yang paling serinfg digambar semasa kecil, semuanya menggambar ……

View original post 725 more words